SELAMAT DATANG

SEMOGA ADA MANFAAT

Senin, 11 Oktober 2010

Merindukan Kebangkitan Remaja Masjid di Indrapuri

Oleh Sayed Muhammad Husen

Ketua Umum Remaja Masjid Raya Baiturrahman 2000-2003

Dua puluh tahun lalu saya mengenal teman-teman Remaja Masjid Asy-Syuhada (RMS), Lampanah, Indrapuri gigih menggelar berbagai kegiatan pembinaan pemuda-remaja. Mereka melakukan aktivitas aneka lomba, pengembangan sumber daya manusia hingga memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah. Kami diundang dari dari Masjid Raya Baiturrahman untuk mendukung kegiatan mereka. Teman-teman yang ketika itu menjadi peserta pelatihan kader, saat ini telah berkerja sebagai profesional, pengusaha, dan menjadi tokoh masyarakat.

Sekarang, saya kembali kembali ke Lampanah, namun tidak menyaksikan lagi kagairahan RMS sepeti para senior dan pendahulunya. Zaman telah berubah. Kebutuhan pemuda-remaja mungkin dalam berkelompok (berorganisasi) juga berubah. Mereka tidak lagi berharap mesranya persahabatan, namun mulai mengandalkan prestasi individualistik. Mempersiapkan diri menjadi pribadi sukses dan mampu bersaing memperebutkan pasar kerja. Bisa jadi, RMS atau organiasi pemuda-remaja lainnya tak mampu “memenuhi” kebutuhan mereka.

Saya mendengar penuturan beberapa aktivis di Indrapuri, Aceh Besar, bahwa sangat sulit menggerakkan organisisasi pemuda-remaja pada masa sekarang ini. Hampir semua perkumpulam pemuda-remaja “lesu darah” (kalau tak kita katakan hampir mati). Organisai Remaja Masjid (RM) tinggal papan nama (bahkan papan nama pun tak ada). Kaum muda lebih memilih kegiatan ekstra sekolah dan kampus dibandingkan memenuhi undangan mengikuti aktivitas RM. Sebagian lagi malah bersikap apatis dan “cuek bebek”.

Namun dibalik itu, saya menyaksikan sejumlah anak muda masih saja bergiat mengurus IPPEMINDRA. “Mereka itulah pemilik masa depan Aceh Besar masa depan,” kata saya pada Afdhil, mantan Ketua IPPEMINDRA. Mereka adalah calom pimpinan pada instansi pemerintah dan swasta. Mereka memiliki mimpi bagaimana membangun Indrapuri dan Aceh Besar lebih baik dari sekarang ini. “Bisa jadi mereka pula nanti yang mampu memindahkan ibukota Aceh Besar ke Indrapuri,” kata saya, setengah seius.

Sepantasnya elit masyarakat Indrapuri memberi apresiasi yang tinggi terhadap IPPEMINDRA, yang setiap tahun (baca: bulan Ramadhan) mampu menggelar pengkaderan/pesantren kilat. Dari pengkaderan ini akan lahir para tokoh muda yang punya visi dan mimpi. Dari mereka kita berharap lahirnya berbagai konsep dan terobosan memajukan politik dan ekonomi Aceh Besar dan bangsa ini. Hampir dapat dipastikan, di luar mereka hanya menjadi penonton dan pengekor belaka.

Untuk itu, patut kita pikirkan satu skenario pembangunan pemuda-remaja Indrapuri masa depan. Mengubah iklim apatisme pemuda-remaja terhadap organisasi. Memupuk kembali harapan mereka akan masa depan yang lebih cemerlang. Mereka kita arahkan menjadi pemuda-remaja yang mencatai ilmu dan pengalaman. Menjadi pemuda-remaja yang dengan dekat tuhan, agama dan masayarat. Melahirkan pemuda-remaja (muslim-muslimah) yang berakhlak mulia, menghargai adat istiadat dan memiliki spirit yang kuat untuk melakukan perubahan menuju negeri yang adil dan sejahterra dalam lindungan Allah Swt.

Sudah saatnya kita menghidupkan kembali Remaja Masjid dan Remaja Meunasah sebagai wadah berhimpun pemuda-remaja di lapisan bawah. Kita fasilitasi mereka dengan berbagai kegiatan pengembangan bakat dan minat, serta aktivitas lain yang mendukung sukses belajar di sekolah dan perguruan tinggi. Terus terang, saya merindukan kembali kebangkitan Remaja Masjid seperti 20 tahun lalu di Lampanah. Yakin bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar