SELAMAT DATANG

SEMOGA ADA MANFAAT

Rabu, 10 November 2010

Adat Pernikahan Masyarakat Aceh

Seperti halnya di daerah-daerah lain di Indonesia yang mempunyai banyak tahapan sebelum seseorang benar-benar resmi menjadi suami istri maka di Aceh pun demikian pula adanya. Sebelum mempelai resmi menjadi suami istri haruslah terlebih dahulu melewati beberapa prosesi adat yang lumayan panjang. Apa saja prosesi adatnya. Prosesi adat pernikahan di Aceh ini dibagi dalam beberapa tahapan yang kesemuanya wajib dilalui oleh kedua mempelai. Ini dia tahapan-tahapan dalam pernikahan adat Aceh..

1. Tahap Melamar (Ba Ranup)

Ba Ranup atau tahapan melamar ini sendiri di Aceh di atur dengan adat yang lumayan panjang yakni terlebih dahulu jika seorang lelaki yang dinilai sudah cukup dewasa sudah saatnya berumah tangga maka untuk mencarikan jodoh bagi si lelaki tersebut atau jika seorang lelaki memiliki pilihan sendiri terhadap seorang perempuan untuk menjadi istrinya maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengutus kerabat yang dituakan dan dianggap cakap dalam berbicara (disebut sebagai theulangke) untuk menemui keluarga sang perempuan untuk menanyakan status sang perempuan apakah yang bersangkutan ada yang punya atau tidak. Jika ternyata yang bersangkutan belum ada yang punya dan tidak ada ikatan apapun dengan orang lain maka barulah theulangke mengutarakan lamarannya.

Pada hari yang telah ditentukan kedua belah pihak kemudian pihak keluarga laki-laki mengutus beberapa orang yang dituakan untuk datang ke rumah orang tua pihak perempuan untuk melamar secara resmi dengan membawa sirih dan isinya sebagai simbol penguat ikatan dan kesungguhan. Setelah acara lamaran selesai dan rombongan pelamar telah pulang maka barulah kemudian keluarga yang dilamar yaitu keluarga sang perempuan bermusyawarh dengan anak gadisnya mengenai diterima atau tidaknya lamaran tersebut.

2. Tahap Pertunangan (Jak ba Tanda)

Jika kemudian lamaran tersebut diterima oleh pihak perempuan maka prosesi selanjutnya adalah keluarga pihak laki-laki akan datang kembali ke rumah orang tua sang perempuan untuk membicarakan hari perkawinannya (disebut peukeong haba) sekaligus juga menetapkan seberapa besar mahar yang diinginkan oleh sang calon mempelai perempuan (disebut jeunamee) dan seberapa banyak tamu yang akan diundang dalam resepsi tersebut.

Pada acara yang sama setelah semua musyawarah tentang besarnya mahar, hari perkawinan dan banyaknya tamu yang nanti akan diundang yang dilakukan oleh keluarga kedua calon mempelai mencapai kata sepakat, barulah kemudian dilanjutkan dengan acara berikutnya yakni acara pertunangan atau yang disebut dengan Jakba Tanda. Dalam acara ini pihak calon mempelai laki-laki akan mengantarkan berbagai makanan khas daerah Aceh dan juga barang-barang lainnya, yang diantaranya buleukat kuneeng dengan tumphou, aneka buah-buahan, seperangkat pakaian wanita dan perhiasan yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga pria.

Tapi karena ada kalanya meski kedua pihak telah sampai pada tahap pertunangan perkawinan itu batal karena berbagai hal maka ‘aturan main’ dalam pertunangan ini jika ternyata pada akhirnya kedua belah pihak gagal bersanding di pelaminan maka tanda emas yang telah diberikan itu jika yang menyebabkan gagalnya perkawinan (tak jadi menikah) adalah calon mempelai pria maka tanda emas itu akan dianggap hangus tapi jika ternyata penyebabnya adalah calon mempelai wanita maka tanda emas itu harus diganti sebesar dua kali lipat.

3. Pesta Pelaminan

Setelah semua tahapan dapat dilalui maka barulah kemudian acara inti pun digelar yaitu pesta perkawinan itu sendiri. Dua prosesi lain dalam adat perkawinan masyarakat Aceh yang juga tak kalah pentingnya yaitu tueng dara baru yang berarti penjemputan secara adat yang dilakukan pihak pengantin laki-laki terhadap pihak pengantin perempuan dan tueng linto baroe yang bermakna sebaliknya. Setelah kedua mempelai melakukan akad nikah dihadapan pak kadi dan telah resmi menjadi sepasang suami istri, pesta pun digelar untuk memberi kesempatan kepada seluruh tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
****

Selasa, 02 November 2010

Seudati, Tarian Pahlawan

SEUDATI, berasa dari satu kata syahadati atau “syahadatain’’, yang artinya dua kalimah syahadah/Aceh : Syahdat (Asyhadualla Ilahaillallah wa Asyhaduanna Muhammadar Rasallullah). Benarkah demikian?. Hal ini perlu penelitian lebih lanjut! Ini menunjukkan bahwa tarian Seudati berasal dari kesenian dakwah pada mulanya. Tapi setelah berkembang, akhirnya seudati menjadi tarian hiburan yang sangat di senangi masayarakat Aceh tempoe dulu!. Kesenangan masyarakat Aceh masa lampau menonton Seudati, tidak kalah tangguhnya, seperti masyarakat Jawa--tempo dulu--nonton wayang atau ketoprak. Sampai pagi pun mata tetap melek terus.

Sebuah Hadih Maja (pepatah Aceh) menyebutkan: ”Kuleumbu mirah panyot kawi, peunajoh timphan piasan Seudati (Kelambu merah lampu tanah kawi, makanan timphan, hiburan Seudati!).

Anekdot lain yang menunjukkan batapa populernya tarian seudati dikalangan masyarakat Aceh;. pernah diceritakan orang begini: Di suatu petang seorang istri mengajak suaminya nonton Seudati yang diadakan di sebuah kampung pada malam hari. Karena sang suami kebetulan hari itu kanker (kantong kering), ia menolak ajakan si istri.

Mertua pun kadang ikut campur!. Akibat sudah jengkel, sang mertua langsung mengajari putrinya:” Tika bek kaleueng panyot bek katot, bah jiduek lam seupot agam ceulaka!”(tikar jangan digelar, lampu tak usah dinyalakan, biar dalam kelam lelaki celaka!). Sambil menggulung kembali tikar yang terlanjur sudah digelar, si isteri lalu meupansie/berceloteh: ”meubuleuen-buleeun neupojoh gaji, meupeng sitali han ek neupeuna?!!( Berbulan-bulan Abang makan gaji, uang setali mungkin nggak ada). Disaat demikian; kalau salah-salah meladeni sang isteri, terutama yang pengantin baru, hubungan rumah tangga bisa retak karena keinginan nonton seudati tidak terpenuhi.

Sebelum tahun 40-an, tarian seudati pernah menjadi tarian kebanggaan sang penguasa. Setiap Uleebalang mempunyai grup seudati masing-masing. Mereka, bahkan bersaing untuk memiliki pemain-pemain seudati yang handal. Untuk itu pihak penguasa tidak segan-segan mengeluarkan uang beratus-ratus Ringget Aceh waktu itu.

Karena kemasyhuran suatu grup seudati, sangat tergantung kepada ketangkasan Aneuk Seudati (anak seudati), maka usaha mendapatkan Aneuk Seudati yang betul-betul memenuhi syarat, bisa membuat para pengiring Uleebalang pusing tujuh keliling. Orang tua yang memiliki anak yang memenuhi syarat sebagai pemain seudati, sering dibujuk untuk merelakan anaknya main seudati. Bila gagal dengan bujukan, sampai-sampai anak itu diculik dan disembunyikan dalam menjalani latihan seudati. Menghadapi hal demikian, para orangtua juga pasang ancang-ancang.

Di antaranya, si anak dikirim ke tempat saudaranya yang jauh atau diantar anaknya ke dayah/pesantren yang Teungkunya disegani oleh Uleebalang. Keengganan orangtua ini disebabkan beberapa hal. Sebagian orang menganggap tarian seudati itu tidak dibenarkan Islam. Tapi bila kita simak penuturan para sesepuh yang masih hidup,keberatan itu dikarenakan latihan-pelajaran main Seudati cukup berat bagi anak-anak.

Misalnya, anak-anak itu diseumpom lam kulam(dicemplungkan ke kolam) pada tengah malam agar badannya bisa dilenturkan sewaktu bermain . Pantangan makan jenis makanan tertentu juga amat ketat. Biasanya, dari keluarga-keluarga miskin dan janda sajalah mudah diperoleh anak-anak calon pemain seudati. Sekaligus para orangtua mereka lantas menjadi “orang dalam” di komplek Uleebalang itu.

Seudati menonjolkan tarian bersemangat dalam keserasian geraknya. Bagi orang yang baru pertama kali menonton Seudati; mungkin jantungnya ‘dag dig dug’, karena menyaksikan gerakan para pemain terus-menerus selang-seling pindah posisi . “Tidakkah mereka bertubrukan sesamanya?”, begitu desah hati penonton pertama kali ini. Menyaksikan tingkah laku gerakan, tarian Seudati dapat disebut Tarian Perang atau Tarian Pahlawan. Dengan menepuk dada dan petik jari(keutrep jaroe), mereka menggambarkan bagaimana ketangkasan serta keberanian putra-putri Aceh ketika melawan serdadu Portugis -Belanda tempo dulu.

“Na katuri kee, meunye beuhe tajo keunoe(Inilah aku, kenalkah kamu?, kalau berani terus maju!). Itulah gambaran keberanian, yang tersirat ketika pemain menepuk dada(peh dada) secara serentak. Gema dari peh dada, keutrep jaroe(petik jari) dan hentakan kaki dilantai pentas/panggung, membikin suasana tarian Seudati riuh-rendah bersemangat. Menyebabkan mata si penonton terbelalak sepanjang malam.

Para pemain tarian seudati terdiri dari: 1 orang pemimpin yang di sebut “Syekh”, 1 orang pembantu kanan Syekh, 1 orang pembantu kiri;keduanya di sebut “Apit Syekh” , 4 orang pemain yang mengiringinya, dan 2 orang Aneuk Seudati (anak Seudati). Dari kata-kata panggilan sesama pemain, dapat disimpulkan, bahwa tarian Seudati merupakan lukisan kehidupan sebuah keluarga dari masyarakat Aceh, yang sering menghadapi banyak tantangan. Walaupun banyak rintangan anggota keluarga tidak pernah putus asa, jalan pemecahan problema tetap dicari.

Anggota pemain menyebut syekh (pimpinan) sebagai ayah, dua anak seudati memanggil pemain lainnya sebagai aduen (abang), sebaliknya keduanya di sebut adoe (adik). “pakriban keu lon aduen e, hom hai adoe boh hate, wate lon pike hanco lam dada”. “Bak pi-e tan peng didalam jaroe, supot lam nanggroe peungeuh lam rimbah” (bagaimana nasib saya hai abangku, aku nggak tahu wahai adinda, kalau terus kupikirkan luluh rasanya hati kakanda. Akibat tak punya uang di tangan , gelap dalam negeri terang dalam rimba).

Bermacam jenis lagu serta irama dapat di bawakan dalam tarian Seudati , baik dalam bahasa Aceh,bahasa Indonesia dan India. Demikian pula iramanya, sejak irama dangdut, keroncong, padang pasir atau hindustan. Kisah dari lagu-lagu tersebut juga bervariasi. Baik tentang perobahan zaman, mendorong rakyat membangun, lukisan keindahan alam, kehidupan rakyat, mengkritik pemimpin yang tidak becus dan sebagainya. Kemerduan suara pemain menentukan daya tarik bagi lagu-lagu yang disenandungkan.

Tarian Seudati diadakan pada malam hari. Yang di tampilkan paling kurang dua group Seudati sekali pertunjukan. Antara kelompok itu diadakan pertandingan (Seudati tunang). Permainannya ditampilkan cara giliran. Kemenangan ditentukan atas kesanggupan menangkis serangan atau tuduhan yang dilontarkan pihak lawan. Ketika ternyata, hantaman balasan tepat sekali ataupun konyol; tepuk tangan penonton gemuruh.

Dulu banyak kampung di Aceh yang punya group seudati . Seluruh rakyat kampung, secera langsung jadi anggota tarian itu. Sedang dewan yang melindungi lembaga Seudati, terdiri semua tokoh desa, yang digelar “tuha seudati “ (tetua seudati). Tidak heran, kalau dulu di Aceh banyak sekali Umong Seudati (sawah seudati), yang hasilnya digunakan untuk modal mengembangkan tarian ini. Petak sawah tersebut biasanya sumbangna dari Uleebalang (penguasa) atau hadiah orang kaya yang “fanatik” seudati.

Sekitar akhir tahun 60-an dan dan awal tahun 70-an, beberapa group seudati cukup terkanal di Aceh. Kepopulerannya bukan hanya di daerah, bahklan pernah dipertunjukkan di Jakarta(Istana Merdeka) dan luar negeri. Diantara sekian banyak Group Seudati itu seperti: Seudati Syeh Ampon Ma’e, Syekh Lah Bangguna, Syekh Lah Geunta, Syekh Rasyid Bireuen (Kesemuanya dari kabupaten Aceh Utara/Bireuen). Sedang dari kabupaten Pidie, yang juga terkenal di daerah sekitarnya, yaitu Seudati Syekh Dawod Tongpudeng dan Seudati Syekh Maun Kunyet, (Padang Tiji).

Kenyataannya sekarang, semua group Seudati yang pernah melangit namanya itu; kini telah lenyap dari peredaran. Jangankan kita lihat mereka bermain; terdengar beritanya pun tidak. Inilah nasib kesenian Aceh, yang kurang perhatian dari berbagai pihak, terutama Pemerintah Aceh!!!.( T.A. Sakti).

Tari Laweut


Tari Laweut adalah tari yang berasal dari Aceh. Laweut berasal dari kata Selawat, sanjungan yang ditujukan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Sebelum sebutan laweut dipakai, pertama sekali disebut Akoon (Seudati Inong). Laweut ditetapkan namanya pada Pekan Kebudayaan Aceh II (PKA II). Tarian ini berasal dari Pidie dan telah berkembang di seluruh Aceh.

Gerak tari ini, yaitu penari dari arah kiri atas dan kanan atas dengan jalan gerakan barisan memasuki pentas dan langsung membuat komposisi berbanjar satu, menghadap penonton, memberi salam hormat dengan mengangkat kedua belah tangan sebatas dada, kemudian mulai melakukan gerakan-gerakan tarian.



Referensi
Badan Arsip Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam





Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Laweut"

Kategori: Tari di Indonesia
Tarian dari Aceh
Tarian Suku Aceh

Kategori tersembunyi: Rintisan bertopik tarian di Indonesia

Tari Seudati

Tari Seudati di Samalanga, Bireuen (1907)Tari Seudati adalah nama tarian yang berasal dari provinsi Aceh. Seudati berasal dari kata Syahadat, yang berarti saksi/bersaksi/pengakuan terhadap Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah.

Tarian ini juga termasuk kategori Tribal War Dance atau Tari Perang, yang mana syairnya selalu membangkitkan semangat pemuda Aceh untuk bangkit dan melawan penjajahan. Oleh sebab itu tarian ini sempat dilarang pada zaman penjajahan Belanda, tetapi sekarang tarian ini diperbolehkan kembali dan menjadi Kesenian Nasional Indonesia.


Selasa, 26 Oktober 2010

Indonesia Berduka Lagi

Tsunami setinggi 3 meter menyapu Kepulauan Mentawai pada Senin (25/10) kemarin malam. Tsunami ini menyusul gempa berkekuatan 7,2 SR yang mengguncang Sumatera Barat: Korban Tsunami Mentawai 108 Orang Tewas, 502 Hilang


Wahai Saudaraku....

"Janganlah bersedih jika sering di timpa musibah!

1) tanyakan pada diri kita : apa kemungkinan terburuk yang akan terjadi?

2) persiapkan diri anda untuk menerima dan menghadapinya

3) kemudian, hadapi dengan tenang untuk menjadikan kemungkinan terburuk itu menjadi lebih baik.

{ Tidak ada yang menyatakan terjadinya hari itu selain Allah } (Q.S An-Najm : 58)

Kita do'a kan mg mereka yang menimpai musibah tetap semangat dan bersabar....... tetap berdo'a kepada Allah SWT.... hanya Allah yang tahu apa-apa yang ada dalam Alam Semesta ini..... (Hrm)

Minggu, 24 Oktober 2010

Data Gaseu

Tempat yang enak di kunjungi waktu kita berekreasi dalam wilayah Aceh Besar..... yang sangat-sangat indah dan menawan....... itulah Data Gaseu yang belum rame orang tau dimana tempatnya... padahal tempat yang paling enak untuk bersantai bersama keluarga, dan juga kawan-kawan....

Data Gaseu adalah daerah yang lalulalang orang yang berjalan, tapi sangat sedikit yang tau tempat ini, tapi herannya padahal mereka selalu lewat dari situ...... Data Gaseu di jalan menuju kekota Jantho, beberapa kilometer dari simpang Jantho Aceh Besar. Tampak permandangan yang begitu indah, didampingi oleh sungai yang jernih, dan juga gunung selawah yang indah dan menawan sampai mambuat pikiran kita fresh, dan juga tetap semangat dalam berfikir..... pantas Data Gaseu yang begitu indah di ciptakan oleh Allah SWT....... kita harus banyak mengetahuinya..... tetap bersemangat dalam belajar.........

Senin, 11 Oktober 2010

Merindukan Kebangkitan Remaja Masjid di Indrapuri

Oleh Sayed Muhammad Husen

Ketua Umum Remaja Masjid Raya Baiturrahman 2000-2003

Dua puluh tahun lalu saya mengenal teman-teman Remaja Masjid Asy-Syuhada (RMS), Lampanah, Indrapuri gigih menggelar berbagai kegiatan pembinaan pemuda-remaja. Mereka melakukan aktivitas aneka lomba, pengembangan sumber daya manusia hingga memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah. Kami diundang dari dari Masjid Raya Baiturrahman untuk mendukung kegiatan mereka. Teman-teman yang ketika itu menjadi peserta pelatihan kader, saat ini telah berkerja sebagai profesional, pengusaha, dan menjadi tokoh masyarakat.

Sekarang, saya kembali kembali ke Lampanah, namun tidak menyaksikan lagi kagairahan RMS sepeti para senior dan pendahulunya. Zaman telah berubah. Kebutuhan pemuda-remaja mungkin dalam berkelompok (berorganisasi) juga berubah. Mereka tidak lagi berharap mesranya persahabatan, namun mulai mengandalkan prestasi individualistik. Mempersiapkan diri menjadi pribadi sukses dan mampu bersaing memperebutkan pasar kerja. Bisa jadi, RMS atau organiasi pemuda-remaja lainnya tak mampu “memenuhi” kebutuhan mereka.

Saya mendengar penuturan beberapa aktivis di Indrapuri, Aceh Besar, bahwa sangat sulit menggerakkan organisisasi pemuda-remaja pada masa sekarang ini. Hampir semua perkumpulam pemuda-remaja “lesu darah” (kalau tak kita katakan hampir mati). Organisai Remaja Masjid (RM) tinggal papan nama (bahkan papan nama pun tak ada). Kaum muda lebih memilih kegiatan ekstra sekolah dan kampus dibandingkan memenuhi undangan mengikuti aktivitas RM. Sebagian lagi malah bersikap apatis dan “cuek bebek”.

Namun dibalik itu, saya menyaksikan sejumlah anak muda masih saja bergiat mengurus IPPEMINDRA. “Mereka itulah pemilik masa depan Aceh Besar masa depan,” kata saya pada Afdhil, mantan Ketua IPPEMINDRA. Mereka adalah calom pimpinan pada instansi pemerintah dan swasta. Mereka memiliki mimpi bagaimana membangun Indrapuri dan Aceh Besar lebih baik dari sekarang ini. “Bisa jadi mereka pula nanti yang mampu memindahkan ibukota Aceh Besar ke Indrapuri,” kata saya, setengah seius.

Sepantasnya elit masyarakat Indrapuri memberi apresiasi yang tinggi terhadap IPPEMINDRA, yang setiap tahun (baca: bulan Ramadhan) mampu menggelar pengkaderan/pesantren kilat. Dari pengkaderan ini akan lahir para tokoh muda yang punya visi dan mimpi. Dari mereka kita berharap lahirnya berbagai konsep dan terobosan memajukan politik dan ekonomi Aceh Besar dan bangsa ini. Hampir dapat dipastikan, di luar mereka hanya menjadi penonton dan pengekor belaka.

Untuk itu, patut kita pikirkan satu skenario pembangunan pemuda-remaja Indrapuri masa depan. Mengubah iklim apatisme pemuda-remaja terhadap organisasi. Memupuk kembali harapan mereka akan masa depan yang lebih cemerlang. Mereka kita arahkan menjadi pemuda-remaja yang mencatai ilmu dan pengalaman. Menjadi pemuda-remaja yang dengan dekat tuhan, agama dan masayarat. Melahirkan pemuda-remaja (muslim-muslimah) yang berakhlak mulia, menghargai adat istiadat dan memiliki spirit yang kuat untuk melakukan perubahan menuju negeri yang adil dan sejahterra dalam lindungan Allah Swt.

Sudah saatnya kita menghidupkan kembali Remaja Masjid dan Remaja Meunasah sebagai wadah berhimpun pemuda-remaja di lapisan bawah. Kita fasilitasi mereka dengan berbagai kegiatan pengembangan bakat dan minat, serta aktivitas lain yang mendukung sukses belajar di sekolah dan perguruan tinggi. Terus terang, saya merindukan kembali kebangkitan Remaja Masjid seperti 20 tahun lalu di Lampanah. Yakin bisa.

Bagaimana Keadaan Remaja Islam Sekarang??

Remaja saat ini sangat-sangat bebas dalam pergaulannya, kadang dia tidak ada tujuan kemana ia akan menuju untuk yang akan datang. Cuma bisa membangga-bangga kan diri dengan apa yang telah ada padanya, ada juga yang membanggakan punya orang tuanya sendiri.

Kalau kita tanya tentang agama banyak remaja yang mengaku Islam, tapi tidak tahu mengenai, Sirah Nabinya, Sahabatnya, bahkan dulu waktu saat sekolah sudah di ajarkan dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, tapi waktu kita tanya "siapa sih Abu Bakar itu??" ada juga yang tidak tahu, belum yang lain ditanya.

Bahkan banyak remaja sekarang tiap pergatian tahun baru selalu mereka merayakan, bersukaria, meniup trompet, malah ada yang berkumpul-kumpul lomba balapan liar yang mengganggu ketentraman masyarakat.

Tahun baru yang nyata-nyata merayakan itu bukanlah tahun Islam baik dari historis maupun dari pandangan umum, tapi coba lihat waktu tanggal 1 Muharram tahun Hijriyah apakah ada yang peduli terhadap tahun yang memiliki sejarah bagi orang yang beriman yang sangat berarti sekaligus sebuah sejarah perjuangan Nabi yang bukan hanya untuk diperingati namun juga sebagai sebuah ibrah yang harus kita amalkan pada setiap individu masing-masing maupun seluruhnya.

coba tanya pada pemuda-pemuda yang mengaku Islam yang mondar mandir dijalanan, coba suruh menyebutkan 12 bulan dalam tahun masehi, lalu coba suruh menyebutkan 12 bulan pula pada tahun hijriyah!!

Allahu Akbar, bagaimana tidak? tahun orang romawi (nasrani) mereka hafal, namun tahun hijriyah tahun agamanya sendiri tidak tahu, jika bulan hijriyah saja tidak hafal, lalu bagaimana sejarahnya?

Bagaimana pendapat anda mengenai ini?? lalu apakah Remaja kita masih ada yang tidak tahu bulannya sendiri??

Budaya di luar Islam banyak merebak hingga mereka buta terhadap agamanya sendiri.

ya Allah berikanlah hidayahmu, tunjukilah kami semua kejalan yang Engkau Ridhai. Amin ya Rabbal’alamin….. ( Hrm / 01.10.2010 )

Jumat, 24 September 2010

Mau Lindungi Anak, 7 Gajah Tewas Ditabrak KA

VIVAnews - Kabar sedih bagi para pencinta gajah. Tujuh ekor hewan mamalia raksasa itu tewas dan seekor lagi luka akibat diterjang kereta api di India, Kamis 23 September 2010. Diduga kawanan gajah itu berusaha melindungi dua anak mereka, yang terjebak di tengah rel kereta saat menyeberang.


Menurut ahli konservasi hutan India, Atanu Raha, peristiwa pilu yang terjadi di daerah Jaipaguri, Bengal Barat, ini karena sekawanan gajah dewasa sengaja menggunakan diri mereka sebagai tameng untuk melindungi anak gajah.

“Para gajah berkumpul di sekeliling dua anak gajah untuk melindungi mereka ketika tertabrak,” ujar Raha seperti dilansir dari kantor berita Associated Press.

Sayangnya, aksi bunuh diri ini tidak membuahkan hasil, dua anak gajah yang berusaha dilindungi juga termasukdalam tujuh gajah yang tewas. Petugas Kehutanan daerah tersebut, Sumita Ghatak, mengatakan bahwa insiden ini adalah merupakan insiden yang memakan jumlah korban gajah paling banyak.

“Ini adalah insiden pertama di negara ini yang menyebabkan banyak gajah mati dalam sekali insiden. Ini sangat mengejutkan,” ujar Ghatak.
Menurut data dari Wildlife Trust india, sejak tahun 1987, kereta di India telah membunuh 118 gajah. Lebih dari 20 gajah terbunuh karena insiden serupa di wilayah Bengal Barat yang dikenal sebagai wilayah perlindungan hewan liar ini.

Daerah jalur kereta di distrik Jaipaguri ini adalah jalur perlintasan gajah yang seringkali memakan korban. Raha mengatakan bahwa kereta yang melewati daerah tersebut haruslah berkecepatan maksimal 24 mil/jam, namun kereta yang menabrak gajah tersebut berkecepatan hingga 43 mil/jam.

“Kami telah melayangkan protes melalui kantor polisi setempat kepada perusahaan kereta api,” ujarnya.

India adalah tempat bagi 25.000 ekor gajah yang jumlahnya kian menyusut setiap tahun. Gajah dianggap sebagai hewan suci di India dan awal bulan ini Kementerian Kehutanan mengumumkan gajah adalah “binatang warisan nasional India”. Dengan pengumuman ini, berarti gajah memiliki perlindungan yang sama dengan harimau India yang terancam punah.

Akibat insiden ini, ratusan orang menggelar aksi demonstrasi di dekat lokasi kecelakaan. Menteri Lingkungan India, Jairam Ramesh, juga menyatakan kekecewaannya atas insiden ini. Jairam yang saat ini sedang berada di New York untuk mengikuti forum lingkungan internasional mengatakan akan segera menemui Dewan Kereta Api untuk memastikan keselamatan gajah.

“Ini bukanlah yang pertama kalinya insiden serupa terjadi, walaupun skalanya kali ini luar biasa untuk daerah perbatasan di Timur Laut. Tragedi ini sangat memilukan, kementerian kehutanan akan mengambil langkah untuk mendirikan konservasi national untuk melindungi gajah dan membuat jalur penyeberangan khusus gajah,” ujarnya seperti dilansir dari laman berita India Rediff.

• VIVAnews

Kamis, 23 September 2010

Jajak Pendapat Tentang Agama Yang Dianut Obama

Perseteruan mengenai agama apakah yang di anut oleh Presiden Barrack Obama menjadi pembicaraan hangat Kristen ataukah Islam. Jajak pendapatpun di gelar untuk mengetahui respon dari masyarakat. Namun dari hasil jajak pendapat tersebut sekitar 43 persen suara menyatakan tidak mengetahuinya, hanya sekitar 18 persen yang menyatakan bahwa Obama beragama Islam.


Saat Ramadhan dan menjelang Idul Fitri tahun ini rupanya menjadi momen yang tak begitu nyaman bagi kebanyakan warga Uwak Sam (US). Salah satu pemicunya adalah soal rencana pembangunan masjid di kawasan tempat kejadian perkara (TKP) tragedi penyerangan 11 September 2001 di Manhattan, New York. Mendapat dukungan dari Wali Kota New York Michael Bloomberg dan Presiden Barack Obama, rencana itu justru mendapat tentangan dari warga AS.

Obama yang keukeuh mendukung rencana itu berprinsip bahwa rakyat AS memiliki hak yang sama untuk menjalankan ibadahnya. “Ini negara demokratis,” katanya sebagaimana warta media AFP pada Jumat (20/8/2010).

Nah, lantaran sikapnya itu, Pew Research melakukan survei menyangkut agama yang dianut Barack Obama. Ada 3.003 warga yang disertakan dalam jajak pendapat yang digelar sebelum 13 Agustus itu. Hasilnya, 18 persen responden mengatakan kalau Barack Obama beragama Islam. Angka ini naik dari sebelumnya, 11 persen, pada Maret lalu.

Hal menarik juga terjadi di kalangan pengikut Partai Republik, seteru politik Obama yang berasal dari Partai Demokrat itu. Dalam jajak pendapat itu, 34 persen penganut Republik mengatakan kalau Obama memang beragama Islam. Kemudian, hanya sepertiga responden yang secara tepat mengenali kalau Obama beragama Kristen.

“Sebetulnya, kami tidak tahu Obama menganut agama apa,” begitu suara 43 persen responden.

Reaksi
Jadilah, survei itu kemudian mengundang reaksi. Pihak Gedung Putih justru mengatakan kalau pertanyaan soal agama Obama adalah macam kampanye misinformasi oleh para lawan politiknya. Adalah Penasihat Keagamaan Gedung Putih Joshua DuBois yang ikut angkat bicara.

“Meski presiden rajin dan memegang teguh keyakinan Kristennya, ada orang-orang tertentu yang berniat menyebarkan kebohongan tentang presiden dan nilai-nilai serta keyakinannya,” katanya.

Memang, nyatanya, jajak pendapat itu memunculkan dua kubu berseberangan. Pada sisi responden yang yakin kalau Obama beragama Islam justru mengatakan bahwa kinerja Obama buruk. Sementara yang yakin kalau Obama beragama Kristen justru memuji kinerja Obama.

Kabar tentang jajak pendapat tersiar di tengah kekhawatiran sebagian warga Muslim AS bahwa mereka akan menjadi sasaran terkait dengan Idul Fitri tahun ini yang jatuh pada 11 September, ulang tahun serangan teror 2001.

Sebagian khawatir masa perayaan Idul Fitri itu akan ditafsirkan sebagai sukacita atas serangan tersebut.(Kompas.com)